Home / berita umum / Era Modern Dukun Beranak Masih Eksis

Era Modern Dukun Beranak Masih Eksis

Era Modern Dukun Beranak Masih Eksis – Ahmad duduk meringkuk di teras suatu rumah bercat putih. Tidak ada yg menemaninya. Cuma rokok kretek dengan ujung menyala yg terselip antara jari tengah serta telunjuknya. Itu juga hampir tidak sudah pernah diisapnya. ” Saya nunggu istri di, ” tangkisnya lirih, Sabtu, 29 Juni 2019.

Tidak ada penduduk kampung yg tidak kenal pemilik rumah di ujung jalan Kelurahan Pasuluhan, Walantaka, Kota Serang, itu. Masyarakat di daerah yg punya jarak cuma lebih kurang 10 km. dari pusat pemerintahan Kota Serang, Propinsi Banten, itu memanggilnya dengan panggilan dukun Sarmi.

Sore itu, istri Ahmad jadi satu diantaranya ‘pasien’ yg dilayani dukun Sarmi. Ahmad menjelaskan istrinya sedang bertarung buat melahirkan anak ke dua. ” Anak pertama pun lahir di dukun Sarmi, ” tukasnya. ” Soalnya, rumah saya tak jauh dari sini. ” Sayangnya, sebab sedang ribet, kami tidak dapat berhadapan dukun Sarmi.

Tapi dukun Sarmi bukan salah satu juru membantu persalinan dalam tempat itu. Cuma punya jarak kurang dari 1 km., kami menjumpai dukun Siti Halimah. Beberapa orang di kampung itu lebih mengenalnya dengan panggilan dukun Siti. Tidak hanya di kampungnya, nama dukun Siti terkenal hingga sampai kampung samping.

Dahulu kan tak ada puskesmas. Jadi belajarnya ikut-ikut Ibu membantu orang melahirkan. ”
Dukun Siti menyongsong kehadiran kami dengan ramah. Tangan halusnya memegang kuat waktu berjabatan tangan. Dia coba menceritakan mengenai pekerjaan yg dilakoninya dalam bahasa gado-gado, bahasa Sunda serta bahasa Indonesia. ” Saya belajar dari orang-tua, ” tukasnya. ” Dahulu kan tak ada puskesmas. Jadi belajarnya ikut-ikut Ibu membantu orang melahirkan. “

Pekerjaan dukun bayi dipelajari serta diwariskan keluarga Siti Halimah turun-temurun. Ibunya, bernama Sarimah, pun kesohor jadi salah satu orang dukun bayi di kampung itu. Demikian dengan neneknya. ” Saya tak pernah sekolah. Jadi saya, Ibu, serta Nenek tak miliki pekerjaan lain, ” kata dukun Siti. ” Teteh (kakak) saya pun dukun. “

Buku Healers on the Colonial Market : Native doctors and Midwives in the Dutch East Indies yg diatur Liesbeth Hesselink menyebutkan satu orang dukun bayi memperoleh ilmunya dari ibu atau anggota keluarganya lebih tua yg hendak memutuskan akan pensiun. Menurut Liesbeth, satu orang doktor peristiwa pengetahuan kedokteran lulusan University of Amsterdam, beberapa dukun setelah itu perdalam ilmunya itu melalui pengalaman-pengalaman praktiknya.

Dosen peristiwa Institut Agama Islam Negeri Surakarta Martina Syafitri mengemukakan pilihan mewariskan pengetahuan pada orang paling dekat itu pun dikuasai unsur pertarungan antardukun. ” Supaya ilmunya tak tepergok orang, mereka diam-diam, ” kata Martina, yg menelaah dukun buat tesisnya. ” Atau peluang lain sebab buta huruf, pengetahuan itu di turunkan dengan lisan. “

Dukun Siti mengakui tidak ingat kapan kali pertama menunjang proses kelahiran. ” Seingat saya, masa itu anak saya telah miliki anak pun, ” tukasnya. Dia lantas tidak tahu kapan dilahirkan. Siti setelah itu ambil ktp (KTP) di kamar. Tertulis di KTP, nama Siti Halimah, lahir pada 1935 di Serang. ” Kayanya usia saya belum 80, ” tukasnya terkekeh.

Tidak hanya wanita yg telah dekat jaman persalinan yg hadir pada dukun Siti. Wanita yg masih hamil muda banyak juga yg bertandang buat memohon dipijat. ” Pijat semuanya (tubuh) , namun saya tak pijat perut depannya cuma sisi ini doang sedikit-sedikit, ” kata dukun Siti sembari menggenggam ke dua bagian perutnya.

Baru sewaktu umur kehamilan mencapai bulan ke-8, dukun Siti baru berani menggenggam perut sisi depan. ” Namanya di-gedog kalaupun telah tua, ” tukasnya. Gedog di sejumlah tempat di Jawa Barat dimaksud pun oyog. Umumnya dukun bayi melaksanakannya apabila ibu hamil merasakan perutnya benar-benar tegang atau buat melakukan perbaikan urutan bayi yg tak benar.

Hampir 15 tahun paling akhir dukun Siti harus berelasi dengan tenaga kesehatan atau bidan dalam mengatasi kelahiran. Dia memperoleh perintah buat menanti bidan kalaupun menunjang persalinan. ” Saya cuma menyertai sembari doakan saja biar lancar keluarnya, ” kata dukun Siti.

Kalaupun nyatanya bayi telanjur lahir tiada datangnya bidan, sang dukun tak diperbolehkan bertindak kelanjutan. Dukun bayi cuma bisa bersihkan ibu, bayi, serta ari-arinya. ” Seusai bersih, bayinya diselimuti, terus tali pusar bisa diikat, namun jangan dipotong, ” kata ibu lima anak itu. ” Kalaupun dipotong, kelak omelan dari bu bidan. Takut saya. “

Sejak mulai ada peraturan pendampingan bidan, ramuan-ramuan yg diserahkan kepada ibu lantas dibatasi. Dahulu dukun Siti diwarisi beberapa resep jamu dari kombinasi daun murbei, lempuyang, bangle, sayatan daun laos, serta lada. Semua bahan dijemur hingga sampai kering, lalu disangrai, setelah itu ditumbuk. ” Ada yg ditempelkan di sisa jalan lahir atau ada diminum supaya air susunya keluar, ” tukasnya. ” Namun saat ini cuma bisa kencur sama kunyit, tidak bisa dioplos. “

Seusai ibu melahirkan, dukun Siti terus mengerjakan perawatan pada pasiennya. Mulai hari ke-tiga, lalu dilanjut hari ke-7, serta masa datang ke-15. Tapi, sejak mulai harus berelasi dengan tenaga kesehatan, dukun Siti dilarang memijat perut 40 hari pascapersalinan. Dia cuma bisa memijat sisi kaki.

Beberapa puluh tahun menekuni pekerjaan jadi dukun beranak, penghasilan Siti tidak sebagaimana. Dia tergantung pada bidan yg didampinginya. Karenanya, Siti belum terpikir buat mewariskan ilmunya pada anak wanita salah satu. Anak perempuannya saat ini masih kerja jadi buruh dalam sesuatu pabrik. ” Terkadang juga ikut, namun ia masih tergolong muda, supaya kerja di pabrik dahulu. “

Mereka (dukun) ini siap setiap waktu sewaktu didatangi. Hadir seringkali lantas siap. Metode pengutaraan itu membuat komunikasi berubah menjadi jalan serta pasien merasakan terkawal. ”
Kader pos layanan terintegrasi (posyandu) di Pasuluhan, Masturi, yang menyertai persalinan di daerah itu, menyebutkan masih ada lima dukun beranak yg aktif dalam daerah itu. Biarpun ada petunjuk menggunakan bidan atau melahirkan di puskesmas paling dekat, kadang keluarga ibu hamil memohon dilayani dukun. ” Bu dukun bae (saja) -lah, telah telanjur, ” kata Masturi menirukan pertimbangannya.

Masturi mengemukakan Kelurahan Pasuluhan dengan jumlahnya masyarakat lebih kurang 5. 000 jiwa cuma dilayani satu orang bidan. ” Paling berdua dengan asistennya, ” tukasnya. Apabila sang bidan ambil cuti atau berhalangan, layanan persalinan dibantu bidan dari puskesmas.

Dukun beranak tidak cuma eksis di Kota Serang, yg cuma punya jarak kurang-lebih dua jam perjalanan dari Jakarta. Bahkan juga di Ibu Kota sendiri masih dapat didapati wanita yg persalinannya dibantu dukun.

Kepala Sektor Kesehatan Orang Dinas Kesehatan DKI Jakarta Fify Mulyani mengaku masih ada kurang dari 2 % dari angka persalinan pada 2018 atau lebih kurang 2. 600 masalah dilayani oleh tenaga nonkesehatan. ” Tenaga nonkesehatan itu seperti dukun bayi, perawat tiada izin, atau dibantu keluarga dekatnya sebab tidak pernah dibawa ke tenaga kesehatan, ” kata Fify. .

Fify mengemukakan preferensi ibu hamil bersalin di dukun tambah banyak dikuasai unsur kedekatan emosional. Dukun miliki kepandaian dekati ibu hamil dengan rasa empati. ” Mereka (dukun) ini siap setiap waktu sewaktu didatangi. Hadir seringkali lantas siap. Metode pengutaraan itu membuat komunikasi berubah menjadi jalan serta pasien merasakan terkawal, ” tukasnya.

Metode komunikasi ala dukun itu, menurut Fify, tidak butuh malu buat ditiru. Dia memberi anjuran tenaga kesehatan membuat ikatan emosional dengan pasien-pasiennya. ” Belum pasti sebab kita diliat bidan atau dokter orang pengen hadir, ” tukasnya. Sampai kini langkah itu, kata Fify, termasuk cukuplah sukses. Apabila ketimbang dengan pada 2017, layanan nontenaga kesehatan buat menunjang persalinan mengalami penurunan 0, 3 %

About admin